Terima kasih

Untuk selalu memperhatikan aku tanpa aku minta..

Untuk menemaniku –lewat SMS, telepon, atau YM– waktu aku sendirian di rumah..

Untuk menjadi orang yang pertama kali aku hubungi ketika aku membuka mata di pagi hari..

Sekaligus menjadi orang yang terakhir kali aku hubungi ketika aku akan menutup mata di malam harinya..

 

Untuk menasehatiku ini dan itu..

Untuk memberi saran ketika aku membutuhkannya..

Untuk selalu memperingatkanku ketika jalanku salah..

Untuk mengajariku dengan penuh kesabaran demi melihat aku menjadi seorang yang lebih baik..

 

Untuk rela bangun dari tidur lelapnya demi menelpon aku..

Untuk rela tetap menemui aku walau sudah lelah beraktifitas seharian..

Untuk rela mengantarkan aku kemana saja asal tidak melihat aku pergi sendirian..

Untuk rela mengunjungiku di sela tugas belajarku meski harus menempuh perjalanan 6 jam mengendarai motor..

 

Untuk menjadi seseorang yang aku cintai dan membuatku selalu merasa dicintai..

 

Terima kasih..

 

 

- ILOVEYOU -

 

 

choose your own colour!

2 bulan kerja jadi dokter internship di sebuah rumah sakit umum daerah ini cukup membuat saya belajar banyak hal. Bahwa ada banyak warna yang berbeda di dunia kedokteran Indonesia.

Kurang lebih 5 tahun mengenyam pendidikan di sebuah fakultas kedokteran yang cukup ternama di Indonesia, saya pikir hanya ada satu warna dunia kedokteran Indonesia. Satu warna untuk staf sangat berdedikasi pada pendidikan kedokteran. Satu warna untuk pelayanan terbaik bagi setiap pasien. Satu warna untuk pemberian obat “seperlunya”. Satu warna untuk kerja sama yang baik dari berbagai bagian demi perawatan pasien secara maksimal. Satu warna yang mewakili sebuah kata : BAIK. Paling tidak mendekati baik.

Ketika saya dilepas dan mulai merasakan dunia kedokteran yang sesungguhnya, saya mulai melihat warna-warni yang belum pernah saya lihat sebelumnya. Merah, putih, abu, bahkan hitam. Ternyata semuanya ada. Warna untuk seorang dokter spesialis yang terlalu lurus, terlalu baik, dan jauh mementingkan kepentingan pasien daripada kepentingan dirinya sendiri. Warna untuk pemberian obat kortikosteroid dan antibiotik tanpa indikasi. Warna untuk perebutan pasien yang serharusnya bisa dirawat bersama. Warna untuk tenaga medis dan paramedis yang sangat sangat bersahabat, seperti sama sekali tidak ada jarak. Warna untuk pandangan yang mengatakan kami terlalu idealis dan nanti pasti luntur kalau sudah kenal uang. Warna untuk dokter yang pantang merujuk dan mengobati semua pasiennya dengan prinsip tembak dulu, urusan belakang.

Dulu, saya hampir selalu marah-marah dan selalu bertanya-tanya kenapa program internship ini ada. Sekarang, saya (mencoba untuk) mulai mengerti bahwa dengan ini saya bisa belajar. Walau tidak selalu bisa belajar ilmu yang saya dalami ini, tapi saya belajar bagaimana hidup di dunia kedokteran yang sesungguhnya. Dan sepertinya saya harus mulai memutuskan, untuk memilih warna yang mana…

 

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.